PSIKOLOGI MANAJEMEN
Baca Lainnya
- Memuat rekomendasi artikel...
| dok. boomborabooks |
Secara etimologi, manajemen memiliki arti mengatur, mengendalikan, mengelola, melaksanakan, dan memimpin. Sedangkan dalam terminologi, salah satunya manajemen didefinisikan oleh Henry L. Sisk yang menjelaskan bahwa manajemen adalah proses menyelaraskan atau mengkoordinasikan seluruh potensi dalam segala sumber daya melalui tahap perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian guna memperoleh tujuan yang telah ditentukan (Sukatin, et al). Manajemen sering dipahami melalui pandangan yang membahas perencanaan, struktur, dan strategi organisasi. Namun, dalam setiap fungsi manajerial selalu ada manusia yang berpikir, merasakan, termotivasi, dan berinteraksi, maka dari itu, pada titik ini psikologi berperan dalam sebuah kajian manajemen. Psikologi manajemen merupakan bentuk implementasi mengenai teori, prinsip, dan kumpulan riset psikologi ke dalam pengelolaan dan pengaturan organisasi atau industri. Ahli psikologi manajemen berperan dalam penyelesaian isu-isu yang berkaitan dengan manajemen personalia, struktur organisasi, penyeleksian anggota, penciptakan lingkungan organisasi yang kondusif sehingga mampu menarik produktivitas anggota yang tinggi dan efektif (Riggio, 2013). Dengan kata lain, psikologi manajemen merupakan hasil percabangan dari psikologi yang luas kuasanya memahami gejala-gejala mental dan tingkah laku seseorang dengan perencanaan, pengambilan keputusan, kepemimpinan, dan pengendalian (Gistituati, 2021).
Fungsi dalam manajemen tersusun dan dikenal dengan singkatan POAC, yang terdiri dari Planning, Organizing, Actuating, Controlling. Ke-empat fungsi tersebut merupakan proses mencapai tujuan yang mana setiap tahapnya melibatkan cara manusia berpikir, berkomunikasi, dan saling mempengaruhi satu sama lain dalam ruang lingkup organisasi.
Planning merupakan tahap awal dalam mempersiapkan segala hal untuk sebuah pencapaian suatu tujuan. Dalam planning, terdapat beberapa proses seperti mempersiapkan dan menetapkan sistem, teknik, metode, sumber daya manusia, dan fasilitas yang akan menunjang kegiatan yang telah disepakati. Dalam berorgaisasi di PMII Rayon Psikes, planning diterapkan secara struktural dan tertulis pada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga PMII Rayon Psikes.
Usai tahap planning telah ditetapkan, adapun tahap selanjutnya yakni organizing. Organizing merupakan tahap pengaturan lebih lanjut dengan memberikan tugas spesifik kepada setiap divisi atau anggota serta tetap menghadirkan otoritas dan komunikasi supaya pekerjaan mampu dikoordinasikan dengan baik. Sistem organizing pada PMII Rayon Psikes, dapat ditinjau berdasarkan pada setiap biro yang tercatat akan selalu memiliki tugas dan arah yang jelas sesuai dengan tujuan dari terbentuknya biro itu sendiri, misalnya Biro Kajian dan Gerakan yang ditugaskan pada penulisan dan juga pengelolaan tim redaktur psikes.
Actuating merupakan tahap seseorang menggerakkan orang lain untuk mampu menyelesaikan pekerjaan atau tanggung jawab yang telah diberi sesuai dengan rencana tanpa meninggalkan moral dan diharapakan dapat ikut serta memotivasi anggota lain. Tahap actuacting yang direalisasikan di PMII Rayon Psikes, yakni setiap biro selalu memiliki program kerja sebagai usaha untuk mampu mencapai tujuan yang sebelumnya telah direncanakan, misalnya Biro Kajian dan Gerakan yang memiliki program Rumah Jurnalis Pergerakan di mana nantinya akan menghasilkan output berupa kepenulisan berita acara dan pergerakan aksi tim redaktur psikes.
Tahap yang terakhir yakni tahap controlling. Controlling merupakan pelaksanaan pengawasan dan penilaian terhadap hasil sesuai dengan standar kinerja serta kesesuaian pelaksanaan dengan rencana. Tahap controlling merupakan tahap yang selalu hadir dalam setiap program PMII Rayon psikes berlangsung, dalam fokus pengawasan dan evaluasi sepenuhnya dalam PMII Rayon Psikes akan dialihkan kepada ketua dan wakil ketua PMII Rayon Psikes. Berdasarkan pada ke-empat fungsi, jika penerapan berjalan dengan maksimal dan dapat dievaluasi serta dikembangkan untuk kedepannya, maka akan semakin meningkat standar kualitas kinerja anggota di masa depan yang lebih teratur, kreatif, inovatif, dan professional (Asni et al., 2024).
Manajemen menitik beratkan pada pengkoordinasian industri dan organisasi yang memiliki struktur kepemimpinan. Pada umumnya, manajemen terbagi menjadi tiga tingkatan, yaitu manajer puncak, manajer menengah, dan manajer lini pertama. Dalam struktur organisasi, manajer puncak terdiri dari kelompok eksekutif yang bertanggung jawab atas keseluruhan arah dan visi organisasi. Manajer menengah bertugas mengarahkan kegiatan para manajer lain dibawahnya serta memastikan strategi organisasi berjalan pada level seharusnya. Yang terakhir, manajer lini pertama yang berperan mengawasi pekerjaan operasional harian. Setiap tingkatan manajemen menutut kompetensi yang kemungkinan tidak semuanya akan selaras. Seperti pada penelitian yang mengkaji para pimpinan tinggi di perwakilan BKKBN Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang secara struktural memiliki manajer puncak dan manager menengah, menemukan efektivitas kepemimpinan yang diberikan dan didukung oleh jenis keterampilan konseptual, interpersonal, teknis, dan politik. Politik diikutsertakan karena keterampilan paham akan politik relevan mengingat kebijakan-kebijakan yang berlaku di masyarakat merupakan campur tangan politik. Melihat dari arah pandang psikologis, penerapan keterampilan manajerial yang efektif juga terbukti berkontribusi terhadap kepuasan kerja anggota organisasi sehigga tingkatan manajemen bukan hanya sebatas struktural formal, melainkan juga akan menentukan kualitas relasi psikologis antara pemimpin dan bawahan. (Priangkawijayantie et al., 2024).
Secara kognitif, planning merupakan proses penetapan tujuan yang akan melibatkan keyakinan psikologis pelakunya. Teori Goals Setting menjelaskan bahwa tujuan yang spesifik dan akan menghasilkan laporan kinerja yang jelas dan informatif serta aktor sosial yang bersangkutan akan memperoleh umpan balik (Locke & Latham, 2002). Kemudian , organizing pada dasarnya adalah sebuah proses sosial yang mencakup pemberian peran, otoritas, dan komuniksi antar manusia. Ketika pembagian tugas tidak mempertimbangkan seluruh aspek yang mempengaruhi, akan menghasilkan role ambiguity atau kebingunga peran dan konflik yang berkesinambungan. Sebaliknya, jika pembagian tugas sesuai dengan pertimbangan aspek-aspek yang meengaruhi, akan menghasilkan kinerja yang lebih sehat dan tentunya sejalan dengan tujuan hingga menimbulkan kepuasan kerja (Priangkawijayantie et al., 2024). Dinamika psikologis dalam manajemen menjelaskan motivasi intrinsik yang menjadi alasan atau dorongan manusia mampu menjalankan setiap pekerjaan yang menjadi tanggung jawab sebaik mungkin. Motivasi menjadi inti dari fungsi actuating ialah rencana dan struktur organisasi akan berjalan dengan baik jika terdapat dorongan psikologis anggotanya untuk bertindak. Teori hierarki kebutuhan Maslow menjelaskan bahwa manusia termotivasi oleh kebutuhan yag masih belum terpenuhi dilihat berdasarkan tingkatan kebutuhan yang paling mendasar hingga yang paling tinggi. Begitupun pada teori dua faktor Herzberg yang membedakan faktor hygiene dan faktor motivator sebagai penentu kepuasan dan ketidakpuasan kerja serta teori X dan Y milik McGregor, yang membedakan asumsi dan pendapat manajer terhadap jenis pekerjaan, dan yang terakhir teori motivasi berprestasi McClelland (Andjarwati, 2015). Ke-empat teori tersebut menunjukkan bahwa fungsi actuating diperlukan pendekatan untuk menggerakkan orang lain sesuai dengan sumber motivasi yang berbeda-beda setiap individunya. Selain motivasi, kepemimpinan menjadi aksi nyata dari fungsi actuating dalam implementasi sehari-hari. Kepemimpinan yang transformasional mampu membangun kepercayaan dan mendorong perilaku bertukar pengetahuan dan pemikiran di antara anggota organisasi (Helmi & Arisudana, 2009). Gaya kepemimpinan merupakan proses psikologis yang mempengaruhi sajauh mana bawahan akan mempercayai pemimpinnya dan turut berkontibusi bagi organisasi. Keberhasilan fungsi actuating sangat bergantung pada kemampuan manajer memahami dan mengelola emosional serta perasaan bawahannya. Psikologi manajemen tidak hanya berfokus pada penerapan fungsi-fungsi manajemen, melainkan menuntut sebuah pemahaman mendalam terhadap alasan dan dukungan yang medorong manusia dalam ber-organisasi baik dari sisi kebutuhan individu maupun relasi antara pemimpin dan kelompok yang dipimpin. Adapun tahap yang terakhir, yaitu controlling. Controlling yang baik akan berjalan sesuai dengan dinamika atau alur psikologis yang sedang berlangsung dalam setiap waktu program berjalan, sehingga ketika semua berjalan dengan kesesuaian akan tampak hasil dari proses pengawasan adalah laporan terkait peningkatan atau kendala yang ternyata masih ada di luar dugaan, bukan hanya sekedar laporan yang terlihat baik dan rapih tertulis dengan tinta hitam di atas kertas (Edmondson, 1999). REFERENSI Andjarwati, T. (2015). Motivasi dari Sudut Pandang Teori Hirarki Kebutuhan Maslow, Teori Dua Faktor Herzberg, Teori X Y Mc Gregor, dan Teori Motivasi Prestasi Mc Clelland. JMM17 : Jurnal Ilmu Ekonomi Dan Manajemen, 2(01), 45–54. https://doi.org/10.30996/JMM17.V2I01.422 Asni, A., Dasalinda, D., & Chairunnisa, D. (2024). Penerapan Fungsi Manajemen POAC (Planning, Organizing, Actuating, And Controlling) dalam Layanan Bimbingan Dan Konseling Di Sekolah. Ideguru: Jurnal Karya Ilmiah Guru, 9(1), 357–364. https://doi.org/10.51169/IDEGURU.V9I1.840 Edmondson, A. (1999). Psychological safety and learning behavior in work teams. Administrative Science Quarterly, 44(2), 350–383. https://doi.org/10.2307/2666999;WEBSITE:WEBSITE:SAGE;ISSUE:ISSUE:DOI Helmi, A. F. (Avin), & Arisudana, I. (Iman). (2009). Kepemimpinan Transformasional, Kepercayaan Dan Berbagi Pengetahuan Dalam Organisasi. Jurnal Psikologi UGM, 36(2), 131823. https://doi.org/10.22146/JPSI.7888 Locke, E. A., & Latham, G. P. (2002). Building a practically useful theory of goal setting and task motivation: A 35-year odyssey. American Psychologist, 57(9), 705–717. https://doi.org/10.1037/0003-066X.57.9.705 Priangkawijayantie, E. R., Akbar, J. S., Radiansyah, A., tuha, panca tuah, & pasaribu, johni paul karolus. (2024). Keterampilan Manajerial Organisasi (Studi Pada Perwakilan Bkkbn Provinsi Kepulauan Bangka Belitung). Jurnal Ilmiah Manajemen Dan Kewirausahaan (JUMANAGE), 3(1), 336–346. https://doi.org/10.33998/JUMANAGE.2024.3.1.1598 --- MAPABA XI Penulis : Nathania Izza Redaktur : Nathania Izza Tim Redaksi Biro Kajian dan Gerakan Rayon Psikologi dan Kesehatan Komisariat UIN Walisongo |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar