PMII PSIKES

Gelar Refleksi Aksi Di Hari Kemerdekaan, PMII UIN Walisongo Pertanyakan "Merdeka Untuk Siapa?" Dan Kritik Komersilisasi Pendidikan

PMII Rayon Psikes Agustus 17, 2026

Baca Lainnya

  • Memuat rekomendasi artikel...

 

Dok.Khusus

Psikes.com – PMIII Komisariat UIN Walisongo Semarang menggelar refleksi aksi dalam rangka menyikapi peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Senin (17/8). Aksi dan wawancara lapangan ini diwakili oleh perwakilan Rayon Psikes mengonfirmasi latar belakang dan arah gerakan PMII kepada Ketua PMII Komisariat.

Wawancara tersebut menyoroti keresahan mahasiswa terhadap arah kemerdekaan bangsa hingga isu komersialisasi pendidikan yang terjadi di tingkat nasional maupun lokal kampus UIN Walisongo Semarang.

Ketua PMII Komisariat UIN Walisongo menyampaikan bahwa pengangkatan tema “Refleksi Kemerdekaan dan Panggung Pergerakan, Merdeka untuk Siapa?" didasari atas keprihatinan terhadap kondisi riil masyarakat, meskipun Indonesia telah puluhan tahun menyatakan kemerdekaannya. Menurut beliau, praktik penindasan, kemiskinan, hingga pembungkaman suara kritis masih marak terjadi.

"Kita tahu Indonesia telah merdeka. Akan tetapi, buat apa kita merayakan kemerdekaan di setiap tahunnya jika segala bentuk penindasan, kemiskinan, bahkan pembungkaman itu masih sering terjadi di sini? Kami masih menanyakan arti merdeka itu sebenarnya buat siapa," ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa fenomena neokolonialisme, gaya baru, serta kebijakan pemerintah yang dinilai sepihak menjadi tantangan besar bersama rakyat.

"Lawan kita bukan lagi penjajah dari orang asing, melainkan neokolonialisme pemerintah kita sendiri dari bangsa kita sendiri yang merampas hak-hak rakyat melalui kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat," tegasnya.

Selain isu nasional, PMII UIN Walisongo menyoroti secara tajam praktik komersialisasi pendidikan. Pada skala nasional, pemangkasan anggaran pendidikan dan pengalihannya ke program lain menjadi catatan kritis. Sementara, pada skala kampus, lonjakan tarif Uang Kuliah Tunggal (UKT) di UIN Walisongo Semarang dinilai semakin membebani mahasiswa dari kalangan menengah ke bawah.

"UKT yang mahal serta kebijakan efisiensi kampus membuat pembayaran di UIN Walisongo Semarang naik secara signifikan. Hal ini mengacu pada aturan KMA (Keputusan Menteri Agama) terkait penetapan UKT yang harus betul-betul kita kawal bersama. Pendidikan yang seharusnya berkeadilan, hari ini justru diwarnai peningkatan pembayaran yang tidak berpihak pada rakyat kecil," jelas Pak Kom.

Menjawab pertanyaan mengenai langkah konkret pasca-aksi, pihak PMII menegaskan komitmennya untuk terus mengawal isu-isu kemahasiswaan dan kerakyatan secara konsisten melalui gerakan kolektif.

"Refleksi aksi ini dibuat agar mahasiswa UIN Walisongo Semarang tetap berpikir kritis. Idealisme adalah kemewahan terakhir bagi pemuda dan menjadi senjata awal kita untuk bergerak secara kolektif-kolegial. Kami akan tetap membawa narasi bahwa mahasiswa adalah agent of change dan social control untuk melawan ketidakberpihakan pemerintah kepada rakyat," pungkasnya.

Rep/dek: Laelatul Qodriyah, Dwi Andini


Tidak ada komentar:

Posting Komentar