Gelar Refleksi Aksi Di Hari Kemerdekaan, PMII UIN Walisongo Pertanyakan "Merdeka Untuk Siapa?" Dan Kritik Komersilisasi Pendidikan
Baca Lainnya
- Memuat rekomendasi artikel...
Psikes.com – PMIII Komisariat UIN Walisongo
Semarang menggelar refleksi aksi dalam rangka menyikapi peringatan Hari
Kemerdekaan Republik Indonesia, Senin (17/8). Aksi dan wawancara lapangan ini
diwakili oleh perwakilan Rayon Psikes mengonfirmasi latar belakang dan arah
gerakan PMII kepada Ketua PMII Komisariat.
Wawancara tersebut menyoroti keresahan mahasiswa terhadap arah kemerdekaan bangsa hingga isu komersialisasi pendidikan yang terjadi di tingkat nasional maupun lokal kampus UIN Walisongo Semarang.
Ketua
PMII Komisariat UIN Walisongo menyampaikan bahwa pengangkatan tema “Refleksi
Kemerdekaan dan Panggung Pergerakan, Merdeka untuk Siapa?" didasari atas
keprihatinan terhadap kondisi riil masyarakat, meskipun Indonesia telah puluhan
tahun menyatakan kemerdekaannya. Menurut beliau, praktik penindasan,
kemiskinan, hingga pembungkaman suara kritis masih marak terjadi.
"Kita
tahu Indonesia telah merdeka. Akan tetapi, buat apa kita merayakan kemerdekaan
di setiap tahunnya jika segala bentuk penindasan, kemiskinan, bahkan
pembungkaman itu masih sering terjadi di sini? Kami masih menanyakan arti
merdeka itu sebenarnya buat siapa," ujarnya.
Ia
juga menambahkan bahwa fenomena neokolonialisme, gaya baru, serta kebijakan
pemerintah yang dinilai sepihak menjadi tantangan besar bersama rakyat.
"Lawan
kita bukan lagi penjajah dari orang asing, melainkan neokolonialisme pemerintah
kita sendiri dari bangsa kita sendiri yang merampas hak-hak rakyat melalui
kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat," tegasnya.
Selain
isu nasional, PMII UIN Walisongo menyoroti secara tajam praktik komersialisasi
pendidikan. Pada skala nasional, pemangkasan anggaran pendidikan dan
pengalihannya ke program lain menjadi catatan kritis. Sementara, pada skala
kampus, lonjakan tarif Uang Kuliah Tunggal (UKT) di UIN Walisongo Semarang
dinilai semakin membebani mahasiswa dari kalangan menengah ke bawah.
"UKT yang mahal serta kebijakan efisiensi kampus membuat pembayaran di UIN Walisongo Semarang naik secara signifikan. Hal ini mengacu pada aturan KMA (Keputusan Menteri Agama) terkait penetapan UKT yang harus betul-betul kita kawal bersama. Pendidikan yang seharusnya berkeadilan, hari ini justru diwarnai peningkatan pembayaran yang tidak berpihak pada rakyat kecil," jelas Pak Kom.
Menjawab
pertanyaan mengenai langkah konkret pasca-aksi, pihak PMII menegaskan
komitmennya untuk terus mengawal isu-isu kemahasiswaan dan kerakyatan secara
konsisten melalui gerakan kolektif.
"Refleksi aksi ini dibuat agar mahasiswa UIN Walisongo Semarang tetap berpikir kritis. Idealisme adalah kemewahan terakhir bagi pemuda dan menjadi senjata awal kita untuk bergerak secara kolektif-kolegial. Kami akan tetap membawa narasi bahwa mahasiswa adalah agent of change dan social control untuk melawan ketidakberpihakan pemerintah kepada rakyat," pungkasnya.
Rep/dek:
Laelatul Qodriyah, Dwi Andini

Tidak ada komentar:
Posting Komentar